Hariangmpnews.id, Bengkulu – Ibrahim Traoré, pemimpin militer Burkina Faso yang berkuasa sejak Oktober 2022, dikenal dunia sebagai sosok yang tegas, nasionalis, menolak campur tangan Barat, dan menjalin hubungan baik dengan Rusia. Namun di balik ketegasannya itu, ada satu hal yang sayangnya justru menjadi masalah besar: cara pandangnya terhadap Islam dan syari’ah yang keliru. Kesalahpahaman ini ternyata berdampak langsung pada jutaan umat Islam di negaranya sendiri. Senin (21/09/2026)
Kesalahan paling mendasar yang dilakukan Traoré dan aparatnya adalah menganggap syari’ah sama dengan terorisme. Mereka cenderung mengaitkan setiap orang yang tampak berpenampilan Islami atau berpegang pada syari’ah dengan kelompok bersenjata seperti JNIM. Padahal, itu sangat keliru. Syari’ah bukan ajakan mengangkat senjata atau menebar ketakutan, melainkan aturan hidup yang mengatur cara beribadah, berakhlak, berbisnis, bermasyarakat, hingga menegakkan keadilan. Terorisme justru dilarang keras dalam Islam, dan umat Islam di Burkina Faso sudah hidup damai dengan ajaran mereka selama ratusan tahun. Mengaitkan identitas keislaman dengan terorisme adalah tuduhan yang tidak adil dan sangat berbahaya.
Kesalahan berikutnya adalah kebijakan yang melarang simbol dan kegiatan keislaman. Pemerintah Traoré dilaporkan menutup masjid, melarang pemakaian cadar, membubarkan kelompok pengajian, menangkap ulama, dan membatasi sekolah-sekolah Islam. Padahal, syari’ah justru menjamin kebebasan beribadah bagi setiap orang. Menutup masjid atau melarang orang beribadah tidak akan pernah menyelesaikan masalah radikalisme — justru sebaliknya, menindas agama hanya akan menumbuhkan kemarahan dan rasa tidak dihargai. Ironisnya, pola pikir seperti ini sebenarnya warisan dari kolonialisme Prancis yang justru sedang ia perjuangkan untuk tinggalkan.
Selain itu, Traoré sepertinya khawatir jika identitas Islam diperkuat, persatuan Burkina Faso yang multietnis dan multireligius akan terancam. Padahal, Islam mengajarkan umatnya hidup rukun dan saling menghormati pemeluk agama lain, serta memiliki aturan yang melindungi hak semua warga negara tanpa membedakan agama. Banyak negara mayoritas Muslim tetap bersatu dan maju, dan faktanya, Muslim yang taat justru biasanya menjadi warga negara yang jujur, disiplin, tidak koruptif, dan sangat mencintai negaranya — bukan ancaman, melainkan kekuatan.
Kesalahan lainnya adalah mengandalkan kekuatan senjata semata. Traoré tampak percaya bahwa masalah di negaranya bisa diselesaikan hanya dengan kekuatan militer. Padahal akar masalahnya bukan sekadar senjata, melainkan kemiskinan yang meluas, ketidakadilan yang merajalela, dan rakyat yang tidak terlayani dengan baik. Mengandalkan kekuatan tanpa memperbaiki kehidupan rakyat terbukti gagal di negara-negara tetangga seperti Mali dan Niger. Syari’ah justru menawarkan solusi yang jauh lebih menyeluruh: keadilan sosial, kesejahteraan bersama, dan kasih sayang yang bisa mencabut akar masalah sampai ke pangkalnya.
Pandangan-pandangan yang keliru ini tidak tumbuh begitu saja. Ada beberapa alasan sederhana di baliknya, mulai dari sisa-sisa pemikiran sekuler peninggalan koloni Prancis yang masih melekat, pengaruh narasi dunia Barat yang sering menggambarkan Islam secara menakutkan, tekanan konflik yang terus berlangsung sehingga membuat siapa pun yang memimpin cenderung mengambil jalan pintas dan menyalahkan hal yang paling mudah dilihat — yaitu agama — hingga kurangnya komunikasi yang baik antara pemerintah dengan para ulama yang moderat.
Melihat kenyataan ini, jalan keluar yang paling bijaksana adalah melalui dialog, bukan kekerasan. Islam mengajarkan untuk mengajak orang dengan cara yang baik dan bijaksana, sehingga para ulama perlu duduk bersama pemimpin negara, menjelaskan apa itu syari’ah yang sebenarnya, dan menunjukkan bahwa Islam bukan musuh negara, melainkan pendukung persatuan dan keadilan. Di sisi lain, umat Islam sendiri harus tampil sebagai warga negara yang baik, bermanfaat bagi sesama, dan berkontribusi nyata bagi pembangunan, sehingga semua orang akan melihat bahwa Islam adalah rahmat bagi semesta, bukan ancaman bagi siapa pun. Tokoh-tokoh agama yang berpengaruh juga perlu berbicara langsung kepada Traoré untuk meluruskan pemahamannya, dan organisasi dunia seperti OKI juga bisa membantu menyampaikan pesan bahwa kebebasan beragama harus dihormati di mana pun.
Sebagai Muslim, kita juga punya peran yang bisa dilakukan. Langkah paling sederhana tapi paling kuat adalah mendoakan — doakan agar hati Traoré dibukakan oleh Allah untuk memahami kebenaran, dan doakan keselamatan saudara-saudara kita di Burkina Faso yang sedang mengalami kesulitan, karena Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa doa seorang Muslim untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya adalah doa yang mustajab. Kita juga bisa menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik, menulis, berbicara, atau membagikan informasi yang benar tentang syari’ah kepada orang-orang di sekitar kita agar pemahaman yang salah tidak terus menyebar tanpa diluruskan. Dukungan kita juga sangat dibutuhkan, baik dengan membantu lembaga-lembaga yang berjuang menegakkan kebenaran dan melindungi hak beragama, maupun menyalurkan bantuan untuk saudara kita yang terkena dampak konflik di sana, serta menyuarakan kebenaran di media sosial agar dunia tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jika ada kesempatan, sampaikan pesan yang santun dan penuh hikmah kepada pihak-pihak yang berwenang, bukan dengan nada memerintah atau menghakimi, melainkan dengan bahasa yang bijak dan penuh kasih sayang. Dan yang paling penting, tetaplah bersabar dan tidak terpancing emosi — kita tidak boleh membalas ketidakadilan dengan kekerasan, karena itu justru akan membenarkan tuduhan-tuduhan yang keliru. Kesabaran dan keteguhan pada prinsip adalah jalan terbaik yang dicontohkan oleh para nabi dan ulama.
Pada akhirnya, kesalahpahaman Ibrahim Traoré tentang syari’ah bukanlah hal yang tidak bisa diluruskan. Masalahnya berasal dari kurangnya pemahaman yang utuh, bukan dari niat yang jahat. Oleh karena itu, tugas kita sebagai umat Islam adalah mendoakan, mengingatkan, menjelaskan dengan baik, dan tetap menjadi teladan yang baik. Semoga Allah membuka hati para pemimpin di sana kepada kebenaran, dan melindungi saudara-saudara kita di Burkina Faso. Aamiin.
Saeed Kamyabi
Trainer Retret Merah Putih, Bengkulu Indonesia


Leave a Reply